Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 18 Maret 2013

BABAT TANAH JAWA



BABAT TANAH JAWA
BABAT TANAH JAWA
            Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.
            Pada masa Brawijaya 1 sampai turun ke 4 tahta selanjutnya, tatkala sir wingit telah merasuki tubuh makhluk hidup dan keseimbangan bathin sudah diambang keumuman, saat itulah kesaktian bentuk ilmu bagian dari kehidupan manusia hingga suatu keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang. Terciptalah zaman di mana manusia dan makhluk tak kasat mata saling berkomunikasi secara bebas. Wahyu ning zaman para Dewa, menjadikan masa kala itu disebut kejawen jawi, yang mengedepankan makna keluhuran bagi umat manusia.

Perjalanan pulau Jawa, sejak zaman sanghiyang Bangau (sebelum masa WaliSongo) seluruh peradaban manusia pada masa itu terbagi menjadi tiga golongan, Manusia, Lelembut, dan Siluman dari bangsa seleman. Dari seluruh golongan ini akhirnya terpecah menjadi dua bagian yaitu, aliran putih dan hitam. Kisah terbaginya golongan ini pada akhirnya mendatangkan peperangan hingga turun sampai ke zaman di mana WaliSongo, dilahirkan.
            Dalam versi lain Ketika sunan prawoto dan sultan hadirin dibunuh oleh aryo penangsang yang mempunyai keris kyai setan kober itu. Ratu kalinyamat meminta pengadilan tapi ia tak mendapatkan pengadilan yang seharusnya, sehingga ia bertekat untuk bertapa yaitu tapa wudha bushono (melepaskan pakaian ke-kerajaan). Kemudian dia mendapatkan pencerahan dan ia menemui adik iparnya yang bernama jaka tingkir (sultan hadiwijaya) dan meminta tolong pada adik iparnya untuk membunuh si aryo penangsang yang juga seperguruan denganya yaitu sama-sama menimba ilmu pada sunan Kudus. Singkat ceritanya Ratu kalinyamat berjanji jika arya penangsang mati maka ia akan meminum darahnya dan rambutnya dibuat Keset (lap kaki) tetapi Jaka Tingkir tak mau dan kembali kekerajaanya. Tapi ratu kalinyamat tak kehabisan akal iapun bertanya pada kebo mulantani yang tahu sifat dan tabiak sultan hadiwijaya, dan iapun menyarankan jika Sultan Hadiwijaya jika kesini lagi kerajaan jepara harus dihiasi dayang-dayang yang cantik pasti sultan akan mau menuruti semua permintaan ratu karna sultan kan sangat suka pada gadis-gadis yang cantik-cantik. Dan kebo mulantani segera menyampaikan undangan pada sultan hadiwijaya untuk kembali bersilaturrahmi ke jepara sultanpun mengiyakan undangan tersebut dan segera tiba disana. Dan dia kembali di mintai pertolongan tentang membunuh aryo penangsang tetapi ia tak menggubris malah melihat dayang-dayang dan ratu kalinyamat bersabda jika sultan bisa membunuh aryo penangsang maka dayang-dayang yang ada di daerah jepara dan penguasaan suamiku dipati bisa kau kuasai beserta tanah yang ada di daerah tersebut. Kemudian sultan hadiwijaya setuju dan ia mengadakan sayimbara barang siapa yang bisa membunuh aryo penangsang maka ia akan diberi tanah yang luas yaitu alas mentaok. Dan ada anak  muda yang berumur 12 tahun yang ikut dan bernama Raden Sutawijaya, Raden Sutawijaya sendiri adalah anak dari sultan hadiwijaya yang didapatkan dari selir-selirnya yang telah dibuang. Dan peperangan itu tejadi pertama di Rawa Pening yang telah disabda atau di kutuk oleh sunan kudus “jika ada yang melewati sungai ini ia akan mati”. Maka si Begawan kebo mulantani memasang setrategi untuk sutowijaya untuk membawa kuda betina. Pada peperangan itu arya penangsang membawa kuda jantan yang gagah dan menunggu musuh diseberang rawa. Tetapi sialnya kuda itu melihat lawan jenisnya dan lari menghampiri kuda sutawijaya yang ada diseberang rawa. Si arya penangsang tahu tentang kutukan tersebut tetapi ia tidak bisa mencegah kuda yang ditungganginya dan ikut menyeberang. Setelah kuda penangsang menghampiri kuda sutawijaya dengan cepat, sutawijaya menyiapkan tombak kiyai pleretnya dan menusukkan keperut arya penangsang dan usus keluar dengan cepat  dari perut penangsang. Anehnya si penangsang tidak mati malah melilitkan ususnya dikeris berengot setan kobernya dan mengejar sutawijaya. Penuh amarah penangsang dan merasa terhina ternyata yang datang anak kecil padahal dalam serat yang menantang adalah Sultan Hadiwijaya tapi yang datang adalah anak kecil. Setelah sutawijaya dalam keadaan terdesak datanglah Begawan mulantani dan berkata itu anak kecil yang bukan tandinganmu.
Tetapi ia telah melukaiku “sahut penangsang”
Sarungkan “kata mulantani (maksutnya jangan sampai mencabut kerisnya)
Tetapi si arya penangsang yang kurang pintar dalam ilmu Balaghoh tak tahu maksud perkataanya. Padahal penangsang adalah muridnya si gudang ilmu (sunan Kudus)
Dan sangat disayangkan ia mencabut kerisnya yang akan di tikamkan kepada sutawijaya, dan keris itu juga terdapat lilitan ususnya, maka tewaslah penangsang karena kebodohanya yang memutuskan sendiri ususnya. Setelah kemenangan tersebut sutawijaya mendapatkan alas mentaok, sultan hadiwijaya mendapatkan selir dari jepara pati dan tanah didaerah itu.. tetapi ada salah satu selir yang umurnya 10 tahun dan dia tak mau mengijab Kabul masal dengan selir lainya. Tetapi ia menunggu sampai besar dan menitipkanya pada mulantani dan tinggal bersama sutawijaya di mentaok. Setelah selir itu besar malah sutawijaya menyukainya. Dan mulantani melaporkan hal tersebut ke sultan yang berkuasa di pajang (setelah demak kekuasaanya meredup semua pemerintahan dialihkan di Pajang). Tetapi si sultan lupa tentang selir tersebut dan meminta mulantani untuk diberikan ke sutawijaya sebagai hadiah. Kemudian sutawijaya membangun kerajaan baru di mentaok, terdengar oleh hadiwijaya kabar itu dan iapun menulis surat kepada sutawijaya untuk menyerahkan mentaok padanya. Tetapi sutawijaya menolak dan meminta tolong pada mulantani untuk membantunya. Akhirnya mulantani bertapa di gunung Merapi dan bertemu penguasa pantai selatan ( nyi Roro Kidul ), dan membuat kesepakatan aku dan tentara jinku akan membantu mengalahkan pajang jika sutawijaya mau menjadi suamiku sampai tahta berikutnya. Dan mulantani melaporkan perjanjian itu sutawijayapun setuju dan mampu mengalahkan kerajaan Pajang. Dan membangun kerajaan baru di Yogyakarta yang bernama mataram serta membawa semua selir yang berada di pajang………….



SELESAI
SELESAI
MATUR SUWUN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MASU